02.48

Hidup untukku

Sudah terlalu lama mendung menjadi teman hidupnya, semakin gelap mendung itu menutup hari semakin terpuruk pula perjalanannya. Tak hanya gemuruh petir yang berteman dengan setengah peraduannya tapi juga katakatanya yang tak pernah berhenti memani omong kosong dari pita kecil disudut kerongkongannya. Dia, laki laki yang sedari tadi tak henti menutup matanya, terlalu naïf untuk sekedar mendengar katakata yang baru saja mampir digendang telinganya tapi ia tak punya pilihan untuk berontak. Baru hari ini setelah ribuan hari ia lewati tanpa suara itu, kini suara itu mengisi setiap detik yang biasa ia lewati bersama lirih angin. Suara yang benar benar ia rindukan yang dicarinya beberapa tahun belakangan ini. Dia, laki-laki itu, tak lagi bisa bersahabat dengan geligi yang biasa menyediakan ruang untuk ia bersuara,,, tak ada lagi omong kosong itu setelah ia ditodong berjuta suara dari satu pita. Bukan!!! Bukan itu yang ia cari selama pelariannya, hatinya berontak, tapi siapa, siapa yang akan mendengar hati itu bersuara. Detik yang ia harap berbuah tawa justru menyeretnya masuk kedalam palung yang selama ini tak terjamah bahkan oleh perempuan itu, perempuan yang sekarang menghadiahkan senandung kemarahan tepat dihadapan laki laki itu.

Terus!! Terus teriak aku memang merindukan suaramu, memori lakilaki itu bertindak tak ubahnya seperti kaset rekaman yang siap merekam semua suara yang ada di depannya. Dia, lakilaki itu tetap tak bersuara, ia hanya berkeluh tepat di ujung2 hati yang kini mengeras ntah penghianatan macam apa yang telah membuat kedua tangannya terkepal. Rahangnya mengeras tapi tetap ia tak sanggup bersuara bahkan untuk sekedar membuat perempuan didepannya berhenti menggetarkan pita suaranya.

Perempuan itu berbalik seakan tak ada yang menggantung di fikirannya, langkahnya membuat lakilaki itu tertinggal jauh, bukan karena ia berlari tapi karena laki laki itu tetap tak bergerak. Ada cairan hangat yang menggantung dimatanya, kristal yang sedari tadi ia tahan untuk tidak menyeringai. Terlalu berharga kristal itu untuknya, perempuan itu tak pernah terlihat punya emosi berbeda dengan hari itu ia memuntahkan semua sakit hatinya semua seyum dan rasa bahagianya pada langit malam, di pinggir kota itu ia berkeluh kesah melupakan hiruk pikuk kota untuk sejenak menjadi apa yang seharusnya jadi dirinya, PEREMPUAN. Terlalu lama ia larut dengan ego dan ambisinya sampai sampai ia lupa tentang separo hatinya. Tapi itu sudah terlalu lama sudah tak patut jika harus membalikkan duniaku fikirnya.

Lagi lagi rahangnya mengeras, ada seraup penyesalan d wajah itu, sedikit tak percaya. Tapi dia, lakilaki itu terpaksa percaya terpaksa berhenti berfikir…..

######

0 komentar: