PEREMPUAN
Apa kau tau, apa kata perempuan itu!
Dia perempuan yang berbeda,
perempuan yang kau siakan demi wanita wanitamu.
Tapi ia tidak menyalahkanmu
ia hanya mampu tersenyum
dan
berkata
“biar ia jelang bahagianya”.
Perempuan itu bersembunyi dibalik senyumnya,
rapi ia bungkus semua luka.
Luka yang sebenarnya ia bibit sediri,
Tapi
ia masih tetap setia pada makhluk yang tak peduli kesetiaannya.
Ia terlanjur cinta pada makhluk yang tak tau seberapa besar cintanya.
Perempuan itu baru belajar mencinta ketika bertemu pecundang itu,
pecundang yang benar2 merenggut hatinya
sebelum ada yang pernah menjamahnya,
ia tau pecundang itu penjaja cinta,
tapi
perempuan itu tetap mencintainya.
Kalau ia tau, ia akan memilih tidak melalui hari ini,
hari dimana ia menistakan makhluk pujaannya.
Hari dimana hatinya terasa galau,
galau karna ingin menghianati sejuta tangis yang menghujam di hidupnya
tangis yang sebelumnya tak ada,
tangis yang biasanya bukan karna duka.
Ia masih tak percaya
tapi harus percaya.
Makhluk itu meremuk redamkannya,
ia ingin lupa tentang hidupnya.
Tentang semua,
tentang ribuan hari sebelum hari ini.
Makhluk itu teramat sangat sempurna dimatanya
hingga kesalahannya tak akan mengurangi indah kerlip yang menhidupkan perempuan itu.
Tapi hari ini,
semua hilang!!!
Hilang dengan jejak luka menggumpal besar,
menghimpit sejuta damba berubah hampa.
Dia perempuan itu akan terus berdiri,,,,
tanpa atau ada makhluk busuk itu.
Lututnya membeku,
semua sendi sendinya mengering.
Terlalu banyak cairan menggumpal jauh didalam hatinya membuat matanya kerontang,
membuat hidupnya penuh dengan sisa kemarau ciptaannya.
Masih ada rasa tak percaya menghujami batu suci di otaknya.
Perempuan itu oleng,
namun tetap berusaha keras untuk berdiri.
Ingin dilepasnya kisah pertama yang menjadi penghujung pelipur hatinya.
Kisah yang sangat mempengaruhi hidupnya,
kisah yang membuatnya bertahan sampai sejauh ini.
Lebih dari 3 tahun perem puan itu terombang ambing dilaut pertamanya
tapi hari ini ia berjanji tak akan bertemu laut lagi,
bahkan laut pertamanya serasa ingin ia dam dengan gumpalan2 amarahnya.
Tapi
gumpalan itu belum cukup banyak hingga menutupi lautan rasa yang pernah membuainya.
Sampai terus ia mencari,
sampai terus ia berlari,
hingga bebal semua rasa.
Sesal!!!!
Ia pernah merasakannya,
tapi tidak untuk kali ini.
Pecundang itu akan tetap menjadi rajanya.
Walau sejuta kata dilemparkan untuk menyadarkannya
tapi tak ada yang bisa membuatnya leleh.
Ia masih yakin dengan indah angin yang membelai kisahnya,
bukan karna ia tak percaya sahabatnya.
Tapi hanya memperhitungkan sesuatu dari hatinya,
ia hanya mengukur benang pendek yang mengikat dunianya,
yang membuat dunianya belum berputar
setelah jutaan kali pecundang itu bermimpi.
